|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Oh, Tuhan yang sunyi, yang tiada seorang pun di sisiNya! Engkaulah yang telah menjadikan bumi, sesuai dengan kehendakmu, sendirian. Seluruh umat manusia, penggembala dan semua gembala. Semua yang ada di ketinggian, yang terbang dengan sayap. Engkau mengatur setiap manusia pada tempatnya. Engkau memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Setiap orang mendapatkan makanannya. Seluruh hidupnya diperhitungkan. Lidah-lidah mereka berbeda dalam ucapan, begitu pula watak mereka, kulit mereka. Karena Engkaulah yang mengatur umat manusia. Karena Engkau menjadikan mereka untuk dirimu sendiri.... PROSA liris yang konon dicipta untuk memuji Aten, Sang Pencipta Kehidupan -- dari sebuah agama monotheis yang dikembangkan penguasa Mesir, Pharaoh Amenhotep, seribu tahun sebelum kelahiran Yesus -- tersebut membuka pikiran Rubag lebih lebar. Dia kini lebih sadar, bahwa mahluk yang kemudian bernama manusia bisa berkembang, baik dalam jumlah maupun kualitas otak, berkat bimbingan dan kehendak kekuatan supernatural bernama Tuhan. Lewat wahyuNya yang diturunkan ke berbagai buku suci, manusia yang menurut Erich Fromm memiliki agresi paling jahat di antara hewan, masih bisa eksis di bumi ini hingga sekarang. Tanpa agama, mungkin ciptaan Tuhan yang konon paling sempurna tersebut sudah mengikuti jejak dan langkah dinosaurus dan mamooth, yang kini keberadaannya hanya bisa dikenal lewat fosil. ''Apakah rangkaian kejadian di dunia, termasuk di Bali, yang kemudian membuat masyarakat Bali seperti kerakap tumbuh di batu seperti saat sekarang, merupakan kehendak Tuhan?'' pancing Rubag pada teman-temannya setelah mereka membaca dan berupaya memahami karya sastra berusia tiga milenium itu. ''Menjawab pertanyaanmu itu tidak boleh seperti menjawab tes obyektif, salah-benar atau ya dan tidak! Juga tidak seperti menjawab kuis Family 100, yang jawabannya kadang-kadang aneh, karena ditentukan survai dan tidak bisa didebat. Kalau aku menjawab, kesengsaraan yang menimpa masyarakat Bali saat ini adalah kehendak Tuhan, kau dan kawan-kawan lain akan memprotes Tuhan. Jangankan menimbulkan kesengsaraan, ketika cuaca terlalu panas dan hujan turun berhari-hari saja, sering kudengar orang ngomel menyalahkan Tuhan. Pokoknya, di zaman yang tidak jelas juntrungannya ini, menjadi Tuhan pun sulit sekali! Maju kena, mundur pun tertabrak! '' komentar Kompyang Mustika. ''Itu karena kepentingan yang terganggu. Coba kalau bisa dia seorang pemalas, justru karena tujuan mengguyur terus menerus, dia punya alasan terlambat ke kantor atau tidak kerja. Petani yang hendak menjemur padi juga akan bersyukur bila panas terik seharian. Kau aneh, jangankan jadi Tuhan, jabatan bupati atau gubernur saja diperebutkan orang dengan berbagai cara saat ini. Malah aku dengar, ada calon yang berani mengeluarkan bermilyar-milyar rupiah, agar bisa terpilih. Soal kemampuan dan tanggung jawab kelak setelah terpilih itu urusan lain. Mereka tidak perlu merasa bertanggung jawab atas terpecah-belahnya masyarakat selama kepemimpinannya. Juga tidak usah malu kalau laporan pertanggungjawabannya ditolak berkali-kali oleh legislatif, toh masih ada isi pundi-pundi yang bisa dibagi-bagi agar LPJ diterima meski dengan catatan,'' sahut Sutama. ''Meski aku tidak pernah belajar teologi secara khusus, apalagi serius, aku berpendapat bahwa penderitaan manusia yang terjadi sejak mahluk ini menghuni bumi hingga sekarang, sepenuhnya kehendak Tuhan. Kekuasaan Tuhan yang mungkin dipertanggungjawabkanNya, hanyalah di sektor jodoh, rezeki dan maut. Soal menderita atau berbahagia tergantung pada fitrah atau ciri bawaan manusia yang banyak mengandung ketamakan, kerakusan, persaingan dan egoisme. Karena itu, sejarah manusia dipenuhi dusta, penipuan, penganiayaan, perkosaan hingga pembunuhan. Sekali lagi, aku tidak setuju pendapat yang mengatakan, segala kejadian atau peristiwa adalah kehendak Tuhan. Amrozi dan kawan-kawan bisa berteriak kegirangan dan menganggap diri mereka utusan Tuhan, yang punya hak mencabut nyawa sembarang mau di sembarang tempat,'' papar Dewa Ngurah. ''Setuju! Bahkan Ebiet G Ade pernah melantunkan tembang, yang liriknya menyatakan bahwa Tuhan sudah bosan melihat tingkah manusia yang bangga akan dosa-dosanya. Aku tidak tahu, apakah Ebiet terinspirasi oleh percakapan Nabi Musa dengan Yahweh, Tuhan dalam Yudaisme, yang saat itu berbicara dari balik semak-semak yang terbakar hebat? Dia mengatakan menyesal telah menciptakan manusia dan berniat mengenyahkan manusia dari bumi, demikian pula ciptaanNya yang lain. Dari sana muncul kisah banjir besar atau air bah,'' tambah Sumadi. ''Heran, dunia beserta isinya kok semakin rusak, justru saat ilmu pengetahuan menduduki puncak piramida kehidupan? Mungkin saja, kalau Yahweh muncul lagi di dunia, Dia tidak sekadar berwacana, tapi langsung menarik manusia dari peredaran,'' sambung Komang Toya. ''Kembali pada beberapa lirik sastra tua itu, konon Tuhan telah menciptakan pluralitas saat penciptaan pertamaNya. Khususnya, mausia diberikan lidah, watak, kulit yang berbeda, mengapa perbedaan tersebut digunakan sebagai alasan untuk menyombongkan diri? Bahkan akibat kesombongan yang memuncak justru menimbulkan tindakan melecehkan bahkan menindas satu sama lain. Kemudian Tuhan juga memberikan makanan serta kebutuhan pada setiap orang, tapi mengapa jurang antara yang miskin dan yang kaya menganga? Ada yang susah payah mengongkosi anak-anaknya untuk menamatkan sekolah dasar, sedangkan segelintir lainnya mengirim anak-anaknya ke sekolah elit dari TK hingga SMU, lalu mengirim mereka ke luar negeri untuk gelar akademik. Ironisnya, di tengah-tengah kemelaratan kita sebagai bangsa yang tertimbun utang luar negeri, titel-titel sarjana dijual seperti menjajakan hamburger, fried chicken dan hot dog di sudut-sudut mal,'' tukas Jernat. ''Pluralisme akan menciptakan
kestabilan bila kelompok-kelompok di masyarakat memiliki kekuatan yang
sama. Baik di bidang politik, budaya, ekonomi maupun agama. Bila ada yang
dominan dan sangat kuat, maka akan terjadi praktik penindasan, oleh yang
kuat terhadap yang lemah atau yang mayoritas terhadap minoritas.
Diskriminasi dan intimidasi akan jadi warna kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Bila hal itu terjadi, tidak berlebihan bila Tuhan
dikatakan bosan melihat tingkah laku manusia dan menyesal atas terciptanya
mahluk yang mampu berdiri tegak di atas kedua kaki tersebut,'' komentar
Rubag.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
copyright@Sistem
Informasi-Bali Post 2002
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||